Edisi Ane(h)kdot


Apa yang menyenangkan buat saya? Tentu kecil kemungkinan untuk sama dengan Anda. Sederhana sih. Sesederhana menghela napas panjang pakek kedua lubang hidung, menahan sekira sepuluh detik, lalu menghembuskan perlahan lewat mulut. Yah, memang seenteng itu.

Tapi apa ya? Kok saya jadi bingung. Apa mungkin lantaran teramat sederhana jadi saya dibikin bingung sendiri. Sebab banyak sekali kesederhanaan yang membuat saya merasa senang. Mungkin juga iya.

Mungkin tidak sama sekali. Tidak ada yang menyenangkan dari yang seharusnya sederhana itu. Ah entahlah, tidak penting dan tidak akan dibawa saat mati nanti. Benar begitu kan!

Cerita saja. Pada saat hati yang cerah, saya membeli kura-kura ijo lorek kuning. Sepasang. Lima belas ribu seorang kala itu. Besarnya tak lebih dari separuh HP samsung saya. Atau seukuran ujung telunjuk ketemu pucuk ibu jari tangan yang sama.

Beberapa dentang lama saya mengasuh mereka. Seingat saya namanya Piko. Sedang yang satu lagi saya lupa menamai siapa. Ini sebab saya terlalu banyak hidup bersama hewan. Hingga toples yang semula cukup untuk berenang zigzag, hanya cukup untuk tengkurap.

Seusai rasa iba meletub-letub, saya mengambil bijak keputusan. Meleluasakan Piko dan satunya berenang sampek elek di kolam belakang rumah. Saya tak sangka, mereka kian cepat bertumbuh. Hingga menyamai ukuran ujung ketemu pucuk ibu jari dan telunjuk sepasang tangan. Lumayan kan?

Ada beberapa fragmen yang terpotong. Lupa tidak saya ceritakan. Bukan sepenuhnya lupa sih, melainkan sengaja. Tapi tidak panting. Jauh dari yang sering disebut-sebut—oleh para aktivi(ta)s—esensi.

Lanjut saja. Dalam memori ingatan saya, kala itu sore hari. Hujan turun sederas update-an stiker di Line akhir-akhir ini. Dikombinasi kilatan petirnya mbah Zeus. Saya waktu itu menikmati riuhnya hujan. Nangkring di pelapah jendela kamar.

Air kolam naik dengan cepat. Hingga amber tak karuan. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Piko dan satunya. Atau jangan-jangan mereka memang tidak pernah berpikir. Mereka berenang-renang sambil menjulurkan kaki depan untuk menggapai dinding tepi permukaan kolam. Sepertinya hendak melarikan diri dari kolam.

Oh tidak. Apa selanjutnya yang hendak saya perbuat? Saya nekad menerobos celah-celah hujan untuk menagkapnya. Mengembalikan ke kolam. Karena mereka secara de facto dan de yure adalah hak saya. Lama sudah saya merawatnya. Menghabiskan beberapa keping rupiah yang hampir setara seumplung—produk yang tidak elok saya sebutkan namanya—dagangan teman saya. Jadi saya harus membawa Piko dan satunya kembali pada saya.

Namun sayangnya, itu hanya dialog sepintas dalam ubun-ubun saya. Saya tak tega dan sama sekali tak punya kuasa memaksakan kehendak untuk bersama melebihi batasan waktu hingga sore itu. “Jika kau ingin menyudahi kebersamaan kita dan sudah tidak ingin tinggal di kolam ini lagi, aku tak akan mencegahmu untuk pergi,” itu yang saya katakan pada mereka.

Lalu saya memalingkan muka dan menuju ranjang yang sedari semula telah merajuk-merayu. Saya menghempaskan badan dan merehatkan pikiran. Dan sekarang saya tak ingat apa yang berlaku setehanya.
Beberapa kali sih saya sempat digegeri oleh tiiiiitpihak berkepentingan yang memiliki hak intervensi—lantaran dituduh menghilangkan Piko dan satunya. Berkali-kali pula saya coba menjelaskan alasan saya, tapi sepertinya memang agak sulit diterima akal sehat. Mungkin saja jika akalnya sudah tak sehat laik saya, akan bisa mengerti dan memahami perbuatan saya.

Dan rupanya, itu salah satu dari sekian salah-salah yang bisa membuat saya merasa senang. Sederhana bukan. Sederhana buat akal saya yang tidak terlalu sehat.

0 komen:

Post a Comment

 
Copyright 2009 Nulisae ning kene
BloggerTheme by BloggerThemes | Design by 9thsphere