Dangdut minggu-minggu

Minggu sore, sekira jam tigaan. Saya melesat ke alun-alun kota. Bukan lantaran hendak lari-lari seperti biasanya. Atau menjajakan asongan. Kan pekael sudah dilarang beredar. Tapi hanya sedikit jalan-jalan membuang sampah. Sampah kotor dalam kepala. Biar bisa lagi diisi macam-macam.

Yah, tebak apa yang saya jumpai. Orang-orang main bola, benar. Para sketboarter, tentu. Penjaja kaki lima, juga ada. Ini yang hot, para gadis bercelana super ketat jogging, juga benar. Ini ni, kalau katanya Ape (singkaan nama) harga susu naik turun. Apa lagi ya, pokoknya ya gitu deh. Sebuah keramaian di sore hari yang cerah. Hahaha.

Tapi rupanya ada yang tak biasa. Tak serupa hari biasanya, ternyata sedang ada event. Saya tidak menyimak betul event utamanya. Yang jelas motor offroad memenuhi sepanjang jalan depan kantor bupati. Sebagian lagi ada yang dijalannan melintas. Dan beberapa diparkir di atas mobil pickup. Sepintas saya lihat, sepertinya ada yang dari kota luar. Saya tahu, dari plat nomornya.

Sebuah event yang lumayan gede nampaknya. Nah, disela-sela rehat setelah kegiatan, ada semacam konser. Ya bertempat di alun-alun itu. Kalo saya hemat dari beberapa lagu yang dinyanyikan, jelas lah dangdut. Dengan cirinya yang khas, pakaian artis yang seksi dengan goyangan yang meliuk-liuk. Diramaikan dengan beberapa biker yang naik panggung joget bareng.

Mulanya saya suka musik dangdut. Tapi kalau sudah kaya gini, rasanya tak karuan. Ngelihat saja ngrasa geli-geli gimana gitu. Apa lagi goyang yang maliuk-liuk itu. Meminjam istilah ge em, saru katanya. Wah-wah benar-benar.

Benar-benar asik buat mereka, dan agak saru buat saya. Kalau saja saya jadi mereka dan mereka jadi saya, enak kali ya. Tapi tak apalah, sedikit-dikit saya curi-curi pandang. Menikmati liukan pantat si penyanyi. Dengan span yang panjangnya tak lebih sejengkal saya. Hu, mak syur. Ah, kenapa saya jadi terlalu jujur ya. Kan harusnya tak usah saya katakana. Biar saya simpan saja dalam hati.

Memang dasarnya saya suka jujur. Malahan terlalu kejujuren. Kalau ngomong sering menyinggung orang. Padahal yang saya katakana itu jujur. Kalau di iklannya sebuah produk rokok yang tentakelnya telah menghiasi alun-alun, yang lain bersandiwara-gue apa adanya. Bagus juga. Kreatif.

0 komen:

Post a Comment

 
Copyright 2009 Nulisae ning kene
BloggerTheme by BloggerThemes | Design by 9thsphere