Sejak kecil saya tinggal di desa. Karena saya tulen orang desa. Nah, di desa tak banyak referensi yang menawarkan opsi makanan yang aneh-aneh. Yang ada ya itu yang dimakan. Salah satunya buah. Mari bicara buah. Buah jeruk dan apel saja. Yang sebenarnya pohonnya tak banyak tumbuh di desa saya. Tapi tak apalah.
Mungkin ini pengalaman terburuk saya. Seumur-umur baru kali ini saya makan jeruk rasa khas peceren. Namanya jeruk Kino Pakistan. Kalau diamati dari tampilan, jelaslah tak diragukan. Warna oranye cerah membulat rata. Pasti bikin kepincut. Aromanya semriwing bikin lidah kemecer. Sedap betul. Tapi naasnya, pada rasa. Ya, rasa yang beribu aneh.
Apa benar lidah saya yang lagi kesleo. Kok tiba-tiba rasanya membawa suasana peceran yang pernah tak sengaja keminum. Dulu sekali sewaktu saya kecil. Benar-benar tak terteka di muka lidah saya. Saya tidak sedang mengigau. Setelah selining rasanya rusak, saya coba lagi liningan lain. Eh rupanya tak ada beda. Bukan salah lidah saya berarti.
Sebelumnya saya sempat menaruh curiga. Gak biasanya jeruk ditaruh di meja bisa bertahan selama itu.
Kalau-kalau kondisinya normal, pasti sudah ludes. Kayak jeruk mini itu. Jeruk ukuran sebola bekel warna oranye rasa mantap.
Dan lagi cerita tentang apel kudisan. Apel lokal murahan dengan bercak-bercak hitam. Selalu, buah sejenis ini tak akan kesentuh. Apalagi di rumah ini. Memang saya akui kalau Moon Light China rasanya sedikit lebih nonjok. Meski hanya sebelas-dua belas sih. Tapi dari segi tampilan, lima-dua puluh. Tampilannya oke banget.
Nah ini dia. Kan saya hanya numpang hidup di rumah saudara perempuan saya. Saya tak pernah beli buah. Karena saya tak banyak punya duit. Hanya ikut menikmati saja. Saya dapat sebuah praduga baru. Mungkin saudara saya itu kalau beli buah dilihat dari tampilannya saja. Menyoal rasa, nanti kalau sudah di rumah baru tau rasa. Alias kapok. Karena rasanya tak semanis kelihatannya.
0 komen:
Post a Comment