Saya harus menunda sementara untuk bisa bermain bersama berang-berang sepanjang waktu. Lantaran harganya yang tak bersahabat dengan kondisi keuangan saya. Saya hanya bisa sesekali mengelusnya. Dan itu pun saya harus ke pasar. Itu juga mungkin hanya untuk sementara waktu. Kalau sudah laku, ya tak bisa lagi untuk sekedar mengelus.
Apa daya, haruskah saya membayar seratus limapuluh ribu sebagai mahar pertemanan saya dengan berang-berang. Nampaknya memang begitu syarat sahnya. Hanya saja saya benar-benar tak punya cukup uang saat-saat ini. Harga itu masih lebih murah, ketimbang saya harus beli secara online. Yang mana saya harus keluar uang sedikitnya empat ratus ribu. Itu belum hitung-hitungan ongkos kirim.
Beberapa bulan terakhir, tiap akhir pekan saya luangkan waktu untuk berkunjung ke pasar hewan. Sabtu dan minggu. Itu agenda pasti. Hari ini, ketiga kalinya saya berturut-turut mendatangi lapak tempat berjualan aneka burung dan binatang lainnya itu. Semenjak kemunculan berang-berang yang mulanya empat ekor, hingga kini sisa dua.
Begitu melintas, saya sudah diawe. Nampaknya pak Saleh tahu betul kalau saya benar-benar kepincut sama berang-berang dagangannya. Penjual berbecak itu menawarkan pada saya. Kalau memang belum punya uang, bisa kok di pesan dulu. Nanti kalau sudah punya tinggal ambil di rumah. Katanya.
Lagi-lagi saya hanya bisa cengar-cengir malu. Kepingin sih pasti iya. Tapi untuk punya uang itu tak pasti kapan. Terpaksanya saya harus bilang. Kalau sampai saya punya uang, dan berang-berang itu belum terjual, pasti saya beli. Tapi kalau sudah terlanjur dibeli orang, ya apa boleh buat. Saya harus rela.
Sebenarnya hampir saya mengeluarkan uang selembaran limapuluh ribu satu-satunya dan terakhir di dompet sebagai jaminan. Tapi kok rasanya penanggalan baru berjalan setengahnya. Lalu kalau saya kasih, setengahnya lagi mau hidup melunta-luntakah? Sungguh terlalu.
Bulunya yang tipis halus selalu bisa menarik perhatian saya. Terlebih lagi ketika jari tangan saya dekatkan ke mulutnya. Dikira induknya, ia menetek laiknya bayi. Sambil mencicit seperti anakan tikus. Dan dia suka ndusel-ndusel. Persis seperti kelakuan keponakan saya.
Apa ya, yang membuat saya sebegitunya gandrung dengan para binatang. Andai saja dalam kehidupan saya tak ada binatang satupun, bisa kacau. Seperti beberapa waktu lalu, ikan saya di akuarium dituangi air belerang sama Afka si autis. Mati semua. Hal ini yang bikin saya jadi pendendam. Kalau-kalau dia lagi-lagi kesini, bisa-bisa saya raupkan sisa air akuarium bercampur belerang dan bangkai ikan itu.
Sudahlah. Itu tak penting. Yang penting, bagaimana saya harus segera dapat uang untuk membebaskan berang-berang itu dari balik kerangkeng pak Saleh. Lalu akan saya jadikan teman bermain saya. Saya buatkan rumah-rumahan. Meski dari sisa bongkahan kardus.
Dan, kalau saja ada pecinta binatang lain yang sudi memberikan santunan pada saya. Setelah membaca tulisan saya ini, saya berjanji akan menjadikan kedua berang-berang itu sebagai teman yang karib. Yang akan selalu saya jaga. Seperti saya memperlakukan kedua luak saya.
0 komen:
Post a Comment