Cerita Saya dari Mereka

Sekira tiga tahun lalu, saya tidak sengaja menjumpai seorang tunadaksa di Kapolsek Bondowoso. Saya tak pakewuh urusan apa yang ia kerjakan. Tangkas rasa iba saya berhamburan. Dengan maksud menyembunyikan keibaan itu, lantas tidak peduli. Malahan isi pikiran ini melantur kemana-mana. Sebuah sloganistik yang selalu berbunyi bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna, kandas seketika itu.

Lalu, saya yang hanya mampir untuk sekadar santap siang di kantin, harus lagi-lagi meretas kisah pelik yang sungguhpun tak saya ingini. Seorang tunadaksa yang tak saya tahu nama maupun asal-usulnya itu mendekati saya perlahan. Saya menebar sedikit senyum memicing dan dia membalasnya. Entah mula dari mana dan apa kata pertama yang dai ucapkan, hanya seingat saya ada beberapa hal yang hingga kini lekat kuat di pikiran.

Dia bicara tentang hak yang sepenuhnya jelas wajib ditepati pemerintah, yang mana saya sangat alpha terhadap yang ia maksud. Lambat laun saya paham setelah dijelaskan dia. Tentang berapa anggka persen pembagian dalam tiap perusahaan yang harus melibatkan didalamnya kesempatan yang sama bagi para saudara kita yang disabilitas.


Lalu cerita tak terperi dari berbagai kebijakan pemerintah lainya lagi. Ketika itu dia hanya secuil memberikan contoh dari ketidakadilan yang sungguh menyulitkan dai dan saudara disable lainnya. Ketika taman dengan indah dibangun lengkap dengan arena permainan, jangankan mencoba, mereka hanya bisa melihat saja. Belum lagi tentang desain segala hal yang seakan-akan memang (hanya) ditujukan untuk kaum manusia normal saja.

Namun ada berita berhembus membawa angin segar bagi penyandang disabilitas. Menurut pemberitaan Kompas.com (10/12/12), “Sebagai salah satu apresiasi untuk penyandang disabilitas yang juga telah mampu menorehkan prestasi gemilang, Pemerintah Kota Yogyakarta akan meminta Taman Pintar untuk terbuka bagi penyandang disabilitas tiap 3 Desember.”

Setelah hari itu, saya banyak berpikir. Rupanya masih dan sangat beragam puspawarna dalam alur kehidupan ini. Tidak ada suatu yang paling benar di atas muka bumi ini. Ketika saya berandai-andai jadi seorang pemimpin, maka masih sangat banyak yang musti saya benahi. Dan rasanya itu sungguh berat dan tidak sanggup saya lakukan semuannya sendiri.

Di kesempatan lain, saya menjumpai seorang tunalaras. Aduhai, saya takjub bukan main. Dia adalah seorang potografer kenamaan untuk sebuah kota seukuran Bondowoso. Hal ini semakin mencambuk diri saya. Saya yang masih dianugrahi kelengkapan jasmani tidak benar-benar menggunakkannya untuk sesuatu yang berguna. Malahan banyak saya sia-siakan untuk perkara yang tidak penting.

Memang tak dapat kita tolak. Bagi yang mau merendahkan hati, maka banyak sekali yang bisa kita pelajari dalam jalanya waktu. Membua wawasan dan dugaan yang tak pernah kita nyana sebelumnya. Dan bahwa itu akan semakin membuat kita menjadi bijaksana. Lebih peduli kepada sesame kita yang mungkin tak seberuntug kita.  Benar saja, bagi saya setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru yang baik.

0 komen:

Post a Comment

 
Copyright 2009 Nulisae ning kene
BloggerTheme by BloggerThemes | Design by 9thsphere