Siapa yang tidak tahu lagu beken
era 80an. Judulnya Kemesraan. Saya sering mendengar lagu itu dibawakan seorang
musisi kenamaan, Iwan Fals. Rasanya begitu indah dan mendamaikan. Khas irama
lawas sedikit cempreng serasa menyeret ke masa-masa banyak tahun silam.
Fantastik.
Lain zaman lain cerita. Ada
sebuah lagu dengan judul serupa. Reff-nya pun masih sama persis. Hanya untuk
lirik yang lainnya diganti. Disesuaikan dengan lirik kekinian anak muda zaman
edan. Tiada lain kalau bukan Amargyla, band indi asal Malang.
Buat saya, liriknya sangat kocak
dan menawarkan alternatif yang tidak wajar di jagad permusikan yang pernah saya
dengar. Kalau yang lainnya kebanyakan bicara cinta-cintaan, yang ini beda. Saya
takjub skaligus kagum pada band indi yang saya kenal dari seorang kawan yang
menjejak pendidikan S2 di Malang ini.
Lirik dari tiap lagu-lagunya
mengumbar kelugasan terhadap situasi yang banyak terjadi. Sebuah keadaan yang
sering di-tabu-kan oleh banyak orang. Amargyla menyuarakan dengan genre hiphop
dan bahasa embongan yang mudah dimengerti. Sebuah terobosan
sebagai jalan pelarian dari band-band kebanyakan.
Eits, buat yang pikirannya masih
belum sepenuhnya terbuka, saya sarankan jangan coba-coba menyetel lagu
ini—Kemesraan. Termasuk lagu-lagu Amargyla yang lainnya. Karena, so pasti akan
ada cap berlabel negatif dari Anda. Ini yang masih sering dan banyak terjadi di
pusparagam manusia kita. Karena tidak tahu, makannya menganggap tabu. Dan
malahan, tidak disangka tidak dinyana, sudah merembet kemana-mana.
Saran saya, coba buka mata lebih
luas dan tajam tentunya. Luas terhadap segala sesuatu yang baru. Tajam, untuk
memilah mana yang dirasa baik dan kurang baik. Lantas, untuk tindakan
selanjutnya, saya serahkan pada masig-masing kepala.
Siapa yang tidak kenal seorang
Aho? Pria kelahiran Sidoarjo dengan etos pesantren yang kental—suka ibadah
maksud saya. Sekaligus pegiat J-Rock sejati. Namanya sudah kondang seantero
Fakultas Ekonomi UnJem.
Meski Aho adalah penggemar J-Rock
sejati, dia tidak segan-segan membuka wawasan baru terhadap band-band indi
macam Amargyla. Acap kali ketika saya lagi khusyuk menikmati lantunan lagu
Amargyla, dia tiba-tiba gabung sambil manggut-manggut mengikuti irama hiphop
yang mendendang.
Etosnya yang lekat pesantren pun
tak jadi rintangan untuk lagu-lagu indi bikinan Amargyla. Baginya surge dan
neraka masihlah jauh dari sekadar menikmati lantunan sebuah lagu kocak. Kali
ini, saya sepaham dengan dia.
Untuk lagu Amargyla yang judulnya
KeMesRaAn, nampaknya lirik lagu itu ada yang dirasa kurang pas buat Aho. Untuk
Reff-nya,”Kemesraan ini/Janganlah cepat berlalu//Kemesraan ini/Inginku kenang
selalu//Hatiku damai/jiwaku tentram disampingmu//Hatiku damai/Jiwaku tentram
bersamamu//”
Lalu oleh Aho lebih dimantapkan
lagi Reff-nya menjadi, ”Kenikmatan ini/Janganlah cepat berlalu//Kenikmatan
ini/Inginku kenang selalu//Hatiku damai/jiwaku tentram disampingmu//Hatiku
damai/Jiwaku tentram bersamamu//”
Saya salut. Kalau boleh, acungan
jembol tepat mengudara di muka Aho. Bagi saia, ini juga sebagai pengalaman
apik. Seorang penggila J-Rock setelah mengalami kecelakaan, dia menjadi sangat
kreatif dan sedikit apatis. Kreatifnya dia menyumbang aransemen lagu
kemesraan-nya Amargyla. Apatisnya, dia tidak peduli lagi J-Rock mau konser
pakai baju batik atau tidak.
Salut Jo!!!!
0 komen:
Post a Comment