Proses editing
merupakan langkah yang tidak boleh ditinggalkan oleh penulis yang baik.
Dengan editing ini, diharapkan tulisan yang dihasilkan menjadi jauh
lebih baik dibanding konsep awalnya. Sebuah tulisan yang baru selesai
dikerjakan pada tahap konsep awal biasanya cukup banyak kesalahannya.
Itulah sebabnya seorang penulis melakukan pengeditan sebelum dikirim ke
media, baik media online maupun cetak.
Perbaikan itu bukan hanya dilakukan satu atau dua kali, bahkan mungkin berkali-kali, sampai dia benar-benar merasa mantap sebelum mempublikasikan hasil karyanya. Ia menyadari bahwa sebuah tulisan merupakan representasi diri penulisnya. Tulisan yang dibuat secara cermat mencerminkan sang empunya yang teliti/saksama dalam berkarya; suatu sifat yang diperlukan dalam karier penulisan.
Perbaikan itu bukan hanya dilakukan satu atau dua kali, bahkan mungkin berkali-kali, sampai dia benar-benar merasa mantap sebelum mempublikasikan hasil karyanya. Ia menyadari bahwa sebuah tulisan merupakan representasi diri penulisnya. Tulisan yang dibuat secara cermat mencerminkan sang empunya yang teliti/saksama dalam berkarya; suatu sifat yang diperlukan dalam karier penulisan.
Saya berpendapat, paling tidak ada 3(tiga) pisau bedah yang bisa dipakai dalam mengedit sebuah konsep tulisan. Dengan ‘senjata’ tiga pisau bedah itu kita dapat membongkar,, menemukan, dan mengeluarkan semua benih-benih ‘penyakit’ pada tubuh sebuah karya. Tentu saja pisau bedahnya sendiri mesti tajam, sehingga proses ‘operasi’ dapat berjalan dengan sukses.
Pertama, pisau bedah kata.
Kata-kata adalah kekayaan yang menjadi modal utama bagi seorang
penulis. Dengan kata-kata, penulis menyampaikan gagasannya. Sebuah
tulisan menjadi kering dan tidak enak dibaca bila tidak dirajut dengan
kata-kata yang sesuai. Ada beberapa hal yang perlu dibedah dalam
kaitannya dengan kata, di antaranya dengan mengajukan pertanyaan:
apakah kata-kata atau ungkapan yang membentuk kalimat dalam tulisan itu
sudah menerapkan ekonomisasi kata? Dengan kata lain,
tidakkah ada kata-kata yang mubazir yang masih termuat di dalamnya?
Selanjutnya, apakah kata-kata yang dipilih sudah benar-benar mewakili
pikiran dan perasaan penulisnya sehingga terhindar dari pemahaman yang
bias pada pembaca?
Kedua, pisau bedah logika.
Dalam setiap tulisan ada sejumlah ide yang dikemukakan. Ide-ide itu
diurai sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh
pembaca. Berkenaan dengan hal ini, pertanyaan yang dapat diajukan
adalah: sudahkah logika penulisan benar-benar diterapkan? Artinya,
sudahkan tulisan itu didasarkan pada penalaran yang benar (induktif
atau deduktif)? Tidakkah ada bagian-bagian yang kontradiktif
antarpernyataan yang membentuk tulisan itu? Hendaknya logika pembentuk
tulisan mengalir lancar menuju muara pengertian yang tepat sesuai dengan maksud si penulis.
Ketiga, pisau bedah orisinalitas.
Karya tulis yang bernilai tinggi adalah karya yang menyajikan
orisinalitas, yakni sesuatu yang baru, yang merupakan pandangan
penulisnya sendiri. Mengkompilasi pendapat banyak orang bukanlah hal
tabu, tetapi kalau di dalamnya dilengkapi dengan pemikiran orisinal si
penulis, tentu tulisan itu menjadi lebih berbobot. Jadi, menulis
bukan sekadar menulis, melainkan hanya kalau ada hal baru atau sudut
pandang baru terhadap suatu peristiwa/pendapat orang lain yang hendak
dikemukakan, sesederhana atau sekecil apa pun itu.
“Tulisan yang bagus”, ungkap Malcom Gladwell dalam pengantar buku What the Dog Saw, “dinilai
berhasil bukan dari kekuatannya meyakinkan. Tulisan yang baik dinilai
berhasil jika tulisan tersebut mampu membuat Anda terlibat, berpikir,
memberi Anda kilasan pikiran seseorang.” Semoga tiga pisau bedah itu dapat membantu kita dalam menghasilkan karya terbaik.
--I Ketut Suweca--
0 komen:
Post a Comment