Sejak beberapa hari lalu pikiran saya sesak, penuh rasanya. Muatan gagasan-gagasan dan ide yang tak pernah tertuangkan serasa semakin membuat saya linglung. Menjadikan pikiran kethul. Tidak bisa sejernih dan sedingin air dalam kulkas yang siap membasuh dahaga menjelang berbuka nanti. Terang saja, setiap ada sesuatu yang mejeng di hadapan kedua bola mata, atau nyentring masuk gendang telinga, membran-membran di otak langsung mengolahnya sedemikian rupa hingga akhirnya tumpukan hasil dari perahan otak memenuhi seluruh sudut-sudut di kepala. Kalau perut di isi terlalu banyak akan terasa mual. Mau ngapa-ngapain rasanya tidak nyaman. Ya, seperti itu juga rasanya.
Pada gilirannya, urusan klasik itu menjelma kembali. Meski ide dan gagasan di kepala sudah menumpuk, bahkan ada beberapa yang berserakan, saat hendak saya rapikan, semua ide dan gagasan tadi berlomba berebut untuk segera keluar. Mungkin karena sudah terlalu penat menunpuk di dalam batok kepala yang sempit. Ujungnya, saya bingung sendiri. Saya tidak bisa mengendalikan dan menertibkannya. Semua berlompatan zigzag tak beraturan.
Saking banyaknya, terkadang itu justru seperti senjata makan tuan, membikin saya seperti orang yang tak makan beberapa hari. Malas. Ya, bagi saya bukan karena alasan lain lagi, melainkan lantaran isi kepala masih penuh sesak.
Bukankah jalan keluarnya mudah, sabar, sabar, dan sabarlah dalam menertibkan pikiran. Seperti tumpukan buku yang berserakan di almari sebelah kiri saya itu. Begitu penuh dan tidak rapi. Hanya perlu sedikit sentuhan penuh kesabaran untuk menyederhanakan tatanan buku itu supaya mudah jika hendak diperdayakan. Saya kira sama, hanya buku-buku dalam otak sering timbul-tenggelam. Karena mengiranya seperti mengandung kegaiban, yang tidak dapat benar-benar dijamah seperti buku di almari. Kalau dalam diskusi up-grading beberapa waktu lalu disebutnya absurd.
Memang tak terkira panjang ulasan tentang itu, isi kepala yang kepenuhan atau kadang semua isi kepala ngumpet entah kemana. Sama-sama membingungkan. Tapi saya tak panjang pikir menyoal itu, hanya saja ketika saat-saat genting, saya harap ada yang menghampiri untuk menolong memecahkan guci tempat kegentingan itu bersembunyi.
Saya jadi ingat saat makan mie ayam di warung dekat kampus. Ketika sajian mie berendam kaldu berlemak dan aroma nikmat mengepul di permukaannya dihadapkan dengan perut keroncongan, saya bingung. Harus mulai menyantapnya menggunakan sendok, garpu atau sumpit. Sejujurnya bukan masalah yang amat penting. Kalau pun disebut sebagai masalah mungkin kerterlaluan, atau saya dikira mengada-ada. Bukankah intinya mengantarkan atau memindahtempatkan mie dengan kaldunya itu ke dalam perut berirama keroncong tadi.
Lagi-lagi saya ingat, seorang senior saya bilang, ”Suatu yang pernah dilakukan dan itu dianggap berhasil untuk menyelesaikan sebuah masalah, maka di lain kesempatan, cara jitu itu juga akan digunakan untuk mengahadapi permasalahan yang sama.” Kalau saya boleh menambahkan, ”Mungkin mirip atau hampir sama juga bisa dicoba.” Saya juga tanpa sadar telah lama mengamini dan memraktekkannya. Ya, salah satunya dalam hal makan. Untuk menjawab bagaimana saya akan mengantarkan sajian mie ayam berkaldu tadi, saya belajar banyak dari pengalanam sehari-hari.
Karena kebiasaan di rumah saya sering menggunakan sendok dan kalau-kalau kepepet baru minta bantuan garpu, saya memutuskan meminta bantuan keduanya untuk menghadapi mie ayam berkaldu kali ini. Tanpa waktu yang panjang, sepanjang untaian mie, sajian itu sekejap berpindah tempat. Melindas permainan keroncong dalam perut.
Karena kebiasaan juga dirumah, saya sering menyantap makanan sambil menyantap pula tontonan acara di televisi, maka tak jarang saya melihat orang menyantap mie dengan beralat sumpit. Padahal mie tadi berkaldu. Kalau saya yang menyantap, pasti dan selalu hanya menyisakan mangkuk kosong. Heran saya, mereka yang menggunakan sumpit, apa tidak menyukai kaldu? Karena saya pikir, bagaimana mencicipi kaldu kalau sumpit tidak dilubangi tengahnya, dirancang mirip sedotan namun lebih kaku.
Atau mungkin ada cara rahasia yang tak saya ketahui perihal memasukkan kaldu ke dalam perut. Yang terbayang, juga karena kebiasaan saya di rumah, mereka yang menyantap mie berkaldu menggunakan sumpit, maka kaldu ditenggak seperti ketika saya menenggak minuman dari gelas.
Jika benar begitu, mungkin saya terlalu jaim, apakah tidak memalukan minum dari mangkuk. Mungkin juga hanya karena saya tidak biasa melakukan hal semacam itu di rumah, jadi saya berpikiran yang aneh-aneh.
Jujur, kalau saya harus melihat seorang perempuan, cantik pula, menenggak kaldu dengan mengangkat mangkuk setinggi itu, seperti orang minum, lalu tampak gelombang aliran kaldu naik turun di lehernya, rasanya aneh. Bukannya saya sok peduli mengurusi orang, saya tidak bermaksud macam-macam. Ya, saya bilang lagi, mungkin saya yang tidak biasa dengan keadaan seperti itu. Atau seperti kebiasaan pikiran saya, yang selalu berpikir apa yang orang lain tidak pikirkan. Dan akhirnya, pikiran itu justru melilit saya, menjauhkan saya dari hal-hal semacam itu, hingga lahirlah kejaiman dalam diri saya. Sambungannya, pikiran yang aneh-aneh itu memenuhi tempurung kepala dan lagi-lagi membuat saya merasa linglung.[t]
0 komen:
Post a Comment